![]() |
| Cerita dari Tapal Batas. (Foto: kapanlagi.com) |
Film dokumenter
berdurasi kurang lebih 57 menit ini mengajak kita “berkunjung” pada
saudara-saudara kita di Dusun Badat Baru, Kecamatan Entikong, Borneo. Sebuah
dusun terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Banyak persoalan yang
dialami masyarakat di daerah perbatasan, salah satunya adalah mengenai
nasionalisme.
Berada di dekat
pusat pemerintahan mudah saja bagi kita meneriakkan “nasionalisme”. Tetapi, siapa
sangka bahwa menumbuhkan nasionalisme tidaklah mudah. Berjanji untuk tetap setia
pada Indonesia pun penuh tantangan seperti yang dirasakan masyarakat Entikong. Nyatanya, bertetangga dengan Malaysia yang jauh lebih “menjanjikan” dibandingkan negeri
sendiri menjadi ujian terberat masyarakat di tapal batas.
Film ini mengajak kita untuk merefleksikan diri. Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana jika saya lahir
dan tumbuh di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan dan jauh dari kata
sejahtera? Akankah saya masih mencintai Indonesia? Apa yang membuat saya cinta
pada Indonesia? rasanya memang harus muncul. Jika saudara-saudara kita di tapal batas masih bisa meneriakkan nasionalisme padahal mereka "tak dapat apa-apa" dari negara tersebut, lalu sedalam apa nasionalisme harus kita pahami?
Berkaca pada
film ini, akankah teori politik identitas relevan? Menurut Cressida Heyes, politik
identitas didasarkan pada pengalaman-pengalaman persamaan dan ketidakadilan yang
dirasakan oleh golongan-golongan tertentu sehingga menghimpun kesatuan untuk
menaikkan derajat dan martabatnya. Jika masyarakat Entikong masih memegang
identitasnya sebagai bagian dari Indonesia, apakah benar itu karena mereka
merasa bahwa memiliki persamaan atas ketidakadilan? Mereka mungkin merasa
terpinggirkan, tetapi masyarakat Indonesia lain (khususnya yang dekat dengan
pusat pemerintahan) apakah juga mengalami ketidakadilan yang sama? Bagaimana
politik identitas menjawab persoalan ini?
Selanjutnya, meskipun film dokumenter karya Wisnu Adi ini berupaya membawa isu-isu di tapal batas ke permukaan publik, nyatanya kita tak bisa kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat di sana benar-benar terpinggirkan. Mengapa? Film dokumenter meskipun didasarkan pada kisah nyata, akan tetapi tetap ada narasi yang dibangun di dalamnya agar sesuai dengan tujuan film.

No comments:
Post a Comment