Saturday, May 26, 2018

REVIEW FILM: Cerita dari Tapal Batas, Bukti Bahwa Tumbuhkan Nasionalisme Tidaklah Mudah


Gambar terkait
Cerita dari Tapal Batas. (Foto: kapanlagi.com)

Film dokumenter berdurasi kurang lebih 57 menit ini mengajak kita “berkunjung” pada saudara-saudara kita di Dusun Badat Baru, Kecamatan Entikong, Borneo. Sebuah dusun terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Banyak persoalan yang dialami masyarakat di daerah perbatasan, salah satunya adalah mengenai nasionalisme.

Berada di dekat pusat pemerintahan mudah saja bagi kita meneriakkan “nasionalisme”. Tetapi, siapa sangka bahwa menumbuhkan nasionalisme tidaklah mudah. Berjanji untuk tetap setia pada Indonesia pun penuh tantangan seperti yang dirasakan masyarakat Entikong. Nyatanya, bertetangga dengan Malaysia yang jauh lebih “menjanjikan” dibandingkan negeri sendiri menjadi ujian terberat masyarakat di tapal batas.


Film ini mengajak kita untuk merefleksikan diri. Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana jika saya lahir dan tumbuh di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan dan jauh dari kata sejahtera? Akankah saya masih mencintai Indonesia? Apa yang membuat saya cinta pada Indonesia? rasanya memang harus muncul. Jika saudara-saudara kita di tapal batas masih bisa meneriakkan nasionalisme padahal mereka "tak dapat apa-apa" dari negara tersebut, lalu sedalam apa nasionalisme harus kita pahami?

Berkaca pada film ini, akankah teori politik identitas relevan? Menurut Cressida Heyes, politik identitas didasarkan pada pengalaman-pengalaman persamaan dan ketidakadilan yang dirasakan oleh golongan-golongan tertentu sehingga menghimpun kesatuan untuk menaikkan derajat dan martabatnya. Jika masyarakat Entikong masih memegang identitasnya sebagai bagian dari Indonesia, apakah benar itu karena mereka merasa bahwa memiliki persamaan atas ketidakadilan? Mereka mungkin merasa terpinggirkan, tetapi masyarakat Indonesia lain (khususnya yang dekat dengan pusat pemerintahan) apakah juga mengalami ketidakadilan yang sama? Bagaimana politik identitas menjawab persoalan ini?

Selanjutnya, meskipun film dokumenter karya Wisnu Adi ini berupaya membawa isu-isu di tapal batas ke permukaan publik, nyatanya kita tak bisa kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat di sana benar-benar terpinggirkan. Mengapa? Film dokumenter meskipun didasarkan pada kisah nyata, akan tetapi tetap ada narasi yang dibangun di dalamnya agar sesuai dengan tujuan film.

No comments:

Post a Comment